Selasa, 22 November 2016

figur

RISALAH SRI SUSUHUNAN MAGELANG HADININGRAT KEPADA JAMAAH TILAWAH

Bismillahi al hamdulillah ash sholatu wa as salamu ala rasulillah wa ahli baytihi wa ashabihi wa man walahu, wa ba’d

khwah, lama tiada ghiroh untuk menorehkan isi benak, namun kali ini ane coba menghidupkan kembali nasyhtoh yang selama ini lesu. Baik, kita coba dengan mengingat dan mengambil ibroh dari beberapa kisah yang digambarkan oleh Al Qur’an sebagai pancang pandang kita dalam berperilaku. Mari kita berfikir sejenak, mentadabburi apa yang telah Alloh kisahkan dalam Al Qur’an. Tentunya hanyalah diri pribadi ini berusaha mengambil manfaat dari isinya, bukanlah semata ingin congkak dan pongah atas tulisan kecil ini. Jauhlah diri dari rasa takabbur, ingin menggagahkan diri, menunjukan sebagai yang ter…dan ter..paling dan paling…, namun adalah sebuah harapan untuk mewujudkan pertemanan dan ukhuwwah dalam landasan yang hakiki, mencoba merajut tali kasih persaudaraan yang sejati. Satu kita dalam namaNya, satu kita dalam tujuan menggapai ridloNya, satu kita dalam mencapai ma’rifatNya. Satu kita dalam ukhuwwah tilawah, amiien.

Artikel kali ini ane coba untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah sering kita dengar, sering kita baca, atau bahkan sering kita acuhkan. Kadang dalam hati tak terlintas untuk mengkajinya, tak terpikir untuk menelaahnya, bahkan jauh dari rasa ketertarikan atasnya, sehingga pantaslah tak pelak lagi kita kurang bisa mengambil ibroh atas nasehat yang terkandung di dalamnya. Artikel ini akan sedikit banyak mengurai beberapa figure kepemimpinan dalam keluarga, kebersamaan dalam keluarga, keluarga yang taat ataukah keluarga yang makshiyat. Maka tiada berlebih jika artikel ini ane judulkan “ Rasmun al usrah”..dimana diartikan sebagai “Penggambaran Keluarga”. Mari kita simak…

Dalam beberapa kesempatan telah lalu, kita telah sering menyinggung bahkan mengajukan masing2 argumen dalam bab Ahkam An nikah Wa Azzifaf”, maka kisah kali ini akan menjadi gambaran bagi ikhwah untuk maju dan membentuk azam apakah bentuk dan motip keluarga yang akan antum usahakan. Tentunya dengan mengambil sumber yang haq, yaitu Al Qur’an dan As sunnah.

Dalam suatu saat, ane teringat sebuah materi yang telah disampaikan oleh seorang ustadz, beliau mengambil tema tentang penggambaran figure keluarga. Menurut beliau al qur’an telah menggambarkan figure tsb dalam 4 macam :

Figur Keluarga dengan kepala keluarga yang salih, sedang istri yang salah.

Al ustadz memberikan sebuah contoh, dimana sebuah keluarga harus mempunyai kesekufuan antara sang suami dan sang istri. Hal itu akan mampu menjadi satu motor untuk menentukan bagaimana kendali kendaraan berupa keluarga akan terarah, menuju satu tujuan visi misi yang sama. Yaitu keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Hal ini sejalan dengan firman Alloh dalam QS. Arrum :21

“ Dan dari tanda2 kuasaNya kami ciptakan bagi kalian dari jenis kalian pasangan, supaya sakinah kalian padanya dan Kami jadikan diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada hal demikian adalah sungguh satu tanda kuasa (Tuhan)bagi kaum yang berfikir”.

Namun, ada kalanya kesekufuan dalam visi dan misi ini tidaklah diperhatikan dan dihirau oleh sebagian dari kita, sehingga pada pertengahan jalan goncanglah kapal keluarga itu. Sebuah figure dimana si suami salih, dan tidak sekufu dengan visi misi sang istri yang hanya mementingkan cinta mulhaqy/ semu. Dimana sang suami betul2 ingin mendirikan sebuah bangunan rumah tangga yang berpaku pada landasan syariat, namun berkebalikan dengan visi istri, yang hanya menganggap bahwa keluarga adalah cukuplah hanya di dunia saja. Sehingga sang istri pun terang2an berani membangkang pada apa kata suami, dengan tanpa landasan yang logis dan syar’ie. Sebuah contoh misal dalam Al Qur’an adalah figure keluarga nabi LUth a.s dan Nabi Nuh a.s. Dimana sang suami merupakan figure panutan ummat, menghimpun ummat menuju ketaatan kepada ilahy, sementara sang istri terang2 an membagkang bahkan menjadi motor yang terdepan sebagai penentang dakwah suaminya. Maka bagi suami adalah merupakan konflik batin terbesar, jika hal ini betul2 terjadi pada masa sekarang. Adalah satu ketentuan dimana seorang suami merupakan panutan dalam keluarga, ia didengar nasehatnya, diperhatikan arahannya, dilaksanakan perintahnya. Namun, bagi figure seperti istri Nabi Luth a.s dan Nabi Nuh a.s ini lainlah soalnya. Mereka malah menjadi kerak neraka, jauh dari keselamatan di akhirat, karena mereka menjadi pemimpin front terdepan dalam menggugurkan dakwah sang suami yang haq. Kita ingat ketika nabi Luth hendak menyelamatkan tamunya, maka istrinya serta merta malah berkata “ akulah yang terang2an akan mengusirmu dari kampong ini”,,insyalloh begitu kisahnyaJ ….maka ibroh yag dapat kita ambil disini adalah, sekufu dalam iman, islam, satu visi satu misi membentuk keluarga yang Islami.

Figure keluarga dengan Kepala rumahtangga ahli ma’shiyat dan istri ahli taat.

Jikalaulah ada gambaran keluarga pada masa ini, maka sungguhlah terlampau berat sang istri itu untuk memperjuangkan keimanannya. Betapalah tidak, seorang suami yang seharusnya menjadi pemimpin keluarga, penentu arah dalam tujuan keluarga. Malah jauh menyimpang dari jiwa dan semangat yang baik. Justru sang suami malah memataharangkan tujuan keluarga semula, yakni membangun keluarga Islami. Type keluarga seperti ini telah Alloh gambarkan dalam keluarga Fir’aun. Asiyah si istri fir’aun, dengan gigih mencoba mempertahankan keimanan sejatinya, walau harus nyawa yang ia haturkan demi menebus keyakinannya. Namun, tiadalah bergrming ia dibuat Fir’aun. Fir’aun yang konon congkak, pantaslah ia congkak dan pongah karena memang sebetulnya ia tidaklah seperti manusia lumrah, dalam suatu kitab dikatakan Fir’aun tiadalah pernah menderita sakit, bahkan buang airpun berjangka 40 hari sekali. Namun, semua itu sebetulnya hanyalah sebagai batu uji Alloh atasnya. Apakah ia akan jumawah, ataukah akan semakin merunduk atas kuasa ALLoh. Malahan ia dicap oleh Al Qur’an sebagai sosok yang melampaui batas, artinya ia telah jumawah mengklaim dirinya sebagai sesembahan / Tuhan. Dan betul, seketika ia dikalahkan oleh anak angkatnya sendiri, Mosa a.s maka pupuslah kepongahannya. Namun, bukanlah pokok kajian kita membicarakan Musa a.s, hanyalah kita mencoba mengambil sisi penggambaran sang istri yang begitu tegar dalam perjuangan mempertahankan keimanan. Ya, istri seperti inilah sungguh surga baginya. Istri dengan pendirian iman yang kokoh, tak terpengaruh arogansi suami.

Figur Suami dan istri sekufu dalam ma’shiyat.

Gambaran keluarga seperti ini telah diterangkan dalam QS Al lahab (Gejolak Api), mari kita simak :

- binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa.

- Tiadalah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan

- Kelak ia akan masuk kedalam api yang bergejolak

- Dan (begitu pula) istrinya, sipembawa kayu baker

- Yang lehernya ada tali sabut

Dalam sejarah hidupnya. Abu lahab dan istrinya adalah sejoli yang senantiasa senang dengan menebar gossip dan fitnah atas nabi, maka dikatakan si pembawa kayu baker, artinya adalah sang pembawa kabar isu/ fitnah atas rasululloh saw. Dan kata kedua tangan itu adalah penegas si Abu Lahab itu sendiri. Kekal mereka dalam neraka ALloh, bahkan oleh sang ustadz dikatakan bahwa kata “hammalata al khatthob” juga diartikan bahwa ia akan memikul kayu baker yang membara di neraka. Nau’dzubillah…

Kita berlindung dari sifat2 sedemikian kepada ALloh swt

Figur Suami dan Istri sekufu dalam iman.

Hal ini adalah sangat cocok dinisbatkan kepada diri rasul. Dimana beliau beserta seluruh keluarganya/ istri2 nya senantiasa dalam keadaan iman yang kokoh. Maka tiadalah berlebih jika Alloh menggambarkan rasul sebagai seorang yang luhur dalam berakhlak, “Wa innaka la a’la khuluqin A’dzim” dan sesungguhnya engkau dalam tatanan akhlak yang agung”…..apalagi dengan persaksian kita sebagai seorang mukmin, maka dengan jelas dasar hokum yang kita ambil adalah al Qur an dan sunnah nabi Muhammad saw, sunnah dalam segala lini kehiduoannya. Maka suatu saat ditanya A’isyah..seperti apakah akhlak rasul itu??Akhlak rasul adalah Al qur’an…..demikian dalam membimbing rumah tangga, ia sukses dan mampu memberi tauladan kepada siapa saja, ia memberi inspirasi kedalam jiwa sanubari tiap muslim di dunia, tokoh yang paling berpengaruh. Bahkan dalam bertata Negara pun ia adalah panutan sejati, dalam berkeluarga hingga khilapah. Kita bermohon kepada ALloh semoga dapat meneladani akhlak beliau dalam segala hal, hingga kita selamat dari dunia sebagai ladang kita memetik buahnya di akhirat, amiien.

Demikian tidaklah perlu diperpanjang lagi, kiranya antum telah banyak mengenal sosok mulia Muhammad bin Abdullah, Sholawat dan salam teruntuknya.

Segala khilap mohon dimaapkan, wal hamdulillahi robbil a’lamin

Sri_susuhunan

Kasuhunan Magelang Hadiningrat

.L.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar