Rabu, 23 November 2016

qudsy (Jihad)

RISALAH SRI SUSUHUNAN MAGELANG HADININGRAT KEPADA JAMAAH TILAWAH

Alhamdullillah, laysa kamitslihi syaiun fi haqqihi aw dzatihi aw asmaihi aw af’alihi. Usholly wa usallimu ‘ala khoiri kholqihi, Muhammadin wa alihi wa ashabihi wa sallam wa ba’d

emoga berkah, kemuliaan dan keteguhan iman senantiasa tercurah atas kita semua, ummat terbaik dari segala ummat. Demikian kita tertuntun dengan segala keindahan koridor islam, dengan kesejukan kalamNya, dengan adab- adab panutan kita, Muhammad sang pembuka cahaya, dialah yang menerangi dunia, cahaya di atas cahaya, penawar hati gundah, ansyuduhu nasyidan mahabban…

Ikhwah, kita simak sebuah hadist qudsy yang berhasil mengusik benak ane sore ini, “ man lam yaskur ala an na’mai wa lam yashbir ala al balai fal yathlub robban siwai”…Siapa saja yang tidak bersyukur atas ni’mat- ni’matKu, dan tiada sabar atas uji cobaKu, maka carilah olehnya Tuhan selain Aku!”

Cobalah ikhwah renung sejenak, apa maksud gerangan kalam ini???

Tepat sekali!!!! Hadist qudsy ini memuat inti iman, bahkan ada sebuah hadist “ al imanu nishfani, nisfun ala syukrin wa nisfun ala shobrin”,….insyaAlloh jika tidak salah seperti itu atau antum coba cari redaksinya. Iman itu terbagi dua bagian, setengahnya atas syukur, dan setengah lagi adalah sabar.

Yaaa,….syukur dan sabar.

Dua kata yang ampuh, tiada lagi kekuatan yang menandingi keimanan. Siapa saja yang beriman akan berani berkorban demi apa yang ia imani, untuk apa yang ia yakini. Berkorban dengan segala kemampuan dan harta benda miliknya, termasuk satu nyawa yang ia bawa. Itulah jihad, jihad mengorbankan apa yang ia punya, demi apa yang ia cinta, siapa yang ia cintai maka akanlah ia besertanya dalam surga nanti. “ Anta ma’a man ahbabta” engkau bersama dengan yang kau cintai”….Beberapa ulama memberikan pendapat mengenai jihad.

- jihad terbesar…..yaitu jihad menundukan gejolak nafsu. Segala nafsu, apa bila terturutkan tanpa kendali, akan mengakibatkan hinanya derajat kemanusiaan kita, hal ini senada dengan firman

“ Inna kholaqna al insane fi ahsani taqwiim, tsumma rodadnahu asfala safilin”…sungguhlah Kami telah bercipta akan manusia itu dalam keadaan sebaik- baik rupa/ bentuk, (akan tetapi )kemudian Kami kembalikan ia dalam serendah- rendahnya tempat (tempat terendah/ hina)”.

Ayat ini menyinggung kita, resiko dimana bila kita kurang pandai memegang kendali nafsu, maka nafsu itulah yang akan membawa kita menuju jurang sengsara. Ingat, Kita diingatkan dalam qur’an

“ Inna annafsa la ammarotun bi as su’”…sesungguhnya nafsu itu mengajak kepada keburukan.

Nafsu disini adalah nafsu yang memperturutkan segala keinginannya, yang mengumbar diri tanpa ada batas kerisauan atas dampak nantinya. Tanpa ada control keimanan, maka poros utama pengontrol nafsu adalah iman. Tepat hadist qudsy diatas, intinya mengatakan “ siapa saja tidak beriman, cari saja lain Tuhan” …..bagaimana nasib manusia coba, ketika ia telah dikucilkan oleh Tuhan, bahkan kita disuruh mencari tempat berteduh di mana tempat itu tidak dimiliki oleh Alloh…manalagi ada tempat seperti itu. Artinya bahwa, kemurkaan Allohlah yang didapat, kekallah dalam keadaan hina selama- lamanya di neraka, asfala safilin,,,,sehina- hinanya tempat yang hina, wal ‘I yadzubillah…Bahkan ketika rasul berpulang dari perang Badr, Beliau bersabda kepada para sahabat “ Roja’na min jihad al ashghor ila jihad al akbar” maa jihad al akbar ya rasul? Qola “ jihad an nafs....Kita telah berpulang dari jihad kecil menuju jihad besar” sahabat Tanya “ apa itu jihad besar ya rasul?? Jawab nabi “ jihad atas nafsu”.

- jihad ‘am (a’wam) : sebuah kategori jihad dimana jihad ini mempunyai batasan ta’rifat yang luas, di mana setiap gerak tindak anggota tubuh bisa menjadi alat jihad. Dengan segala kemampuan dan kesempatan, segala profesi bisa menjadi ajang jihad. Asalkan landasan adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, juga beramal sholih. Dijanjikan dalam al qur’an : 62,

“ Sesungguhnya orang- orang yang beriman dan orang – orang yahudi dan nashrani dan shobiin, yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan beramal sholih maka bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhannya. Dan tiada kekhawatiran atas mereka dan tiadalah bagi mereka kesusahan”.

Intinya dalam ayat ini semua mengacu kepada iman dan amal sholih, dalam segala bentuk amal sholih bisa menjadi jihad, itulah pengertian jihad ‘am. Adapun ayat di atas tadi telah lampau ane urai dalam kajian dan muhadastah di tilawah. Apabila masih mengganjal insyaAlloh bisa didiskusikan kembali.

- Jihad muthlaq : sebuah bentuk frontal dan fisik atas reaksi ummat muslimin terhadap tindakan yang betul- betul merongrong keutuhan dan kewibawaan Islam. Jihad ini disebut juga secara ma’lum sebagai jihad harby...yaitu berperang li I’lai kalimatihi subhanahu wa ta’ala ham dan yaliqu bijalalihi wa a’dzimi shulthonih. Meninggikan keluhuran kalimat tauhid, mempertahankan diri dari musuh- musuh islam, yang kian lama kian berulah, membuat kekacauan dengan mengatas namakan islam, atau bahkan mencoba secara frontal berhadapan dengan muslim. Ketika telah terpukul dan tertabuh genderang jihad harby, maka pintu surga siap terbuka, jihad berpahala surga, karena jiwa jihad adalah ruh dari perjuangan. Akhir- akhir ini sering ada faham yang menggembosi semangat jihad kaum muda muslim, bahkan mulai mengaburkan arti / ahammiyah al jihad. Maka, bukan tidak mungkin seorang muslim di masa mendatang akan asing dengan kata jihad, dan malah parahnya lagi akan asing mendengar kata “Islam”. Ketahuilah wahai ikhwah, Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah ia yang terasingkan di tengah- tengah hingar bingarnya kerusakan dunia, akibat meninggalkan kelaziman para ahlus sunnah, sehingga mereka yang senantiasa mengaplikasikan diri sesuai sunnah akan dianggap asing. Namun keprihatinan kita, jihad sendiri menjadi trik penggembos kalangan muslim sendiri, menjadi pemicu tindakan yang di luar koridor jihad sebenarnya.Sehingga islam terkesan horror, seram dan menakutkan. Seharusnya ummat muslim kudu pandai bersikap, tiadalah sesuatu yang gegabah tanpa ilmu dan pertimbangan itu akan ada guna. Di mana kita mengenal “ Mencegah mafsadat adalah jauh lebih baik, dari pada menghadirkan mashlahat”......sedang dalam realita akhir- akhir ini, justru Islam dirundung sedih, wajahnya tercoreng dengan adanya isu- isu yang mengatasnamakan jihad disepadankan dengan aksi terror. Tentulah ikhwah mengerti, sehingga tiada perlulah ane menyinggungnya. Yang jelas, semua berdasar iman dan amal sholih. Amar ma’ruf nahyi an al munkar, bukan nahyi an al munkar bi ath thoriq alladzy lahu sababun li al mafsadat”....mengajak kepada perkara ma’ruf, mencegah atas yang munkar....bukan mencegah munkar dengan jalan yang menimbulkan kerusakan.

- Semoga manfaat

- Wassalamu’alaikum wr wb Sri_Paniti_laksana Kasuhunan Magelang Hadiningrat

.L.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar