Sabtu, 20 Desember 2025

TUNJUKKAN KITAB YANG ASLI!

 image

Sok tau banget itu yang bilang bahwa cek itu palsu. Coba kasih liat kek mana cek asli itu! Emang pernah liat cek asli itu kek mana?

"COBA TUNJUKKAN KITAB YANG ASLI"

Narasi tersebut memang merupakan inti dari perdebatan teologis yang sering dibawakan oleh Dr. Zakir Naik (dan beberapa pendebat lainnya) saat menjawab kritik: "Bagaimana kalian bisa bilang Injil sekarang palsu kalau kalian sendiri tidak bisa menunjukkan yang aslinya?"
Berikut adalah penjelasan mengapa narasi "uang kertas tulisan tangan" itu digunakan untuk menjawab tantangan tersebut dalam perspektif mereka:

1. Logika "Kesalahan Internal"
Analogi tersebut digunakan untuk mengalihkan beban pembuktian. Logikanya begini:

  • Untuk mengetahui sesuatu itu salah, kita tidak selalu butuh pembanding yang benar di sampingnya.
  • Jika Anda menemukan uang kertas yang ditulis tangan, Anda tidak perlu pergi ke Bank Indonesia untuk melihat uang asli hanya untuk memastikan bahwa uang tulisan tangan itu palsu. Sifat "tulisan tangan" itu sendiri sudah merupakan bukti mutlak kepalsuan.
  • Penerapannya: Dalam debat tersebut, Zakir Naik mengklaim bahwa di dalam Alkitab (Taurat & Injil saat ini) terdapat kontradiksi internal (misalnya perbedaan angka di ayat yang berbeda untuk kejadian yang sama) atau hal-hal yang dianggap tidak logis secara sains. Baginya, kontradiksi itu adalah "tulisan tangan"-nya. Karena ada "tulisan tangan" (kesalahan), maka ia menyimpulkan itu bukan murni dari Tuhan, tanpa perlu menunjukkan naskah asli dari zaman Nabi Musa a.s. atau Nabi Isa Al-Masih putra Maryam a.s..

 2. Konsep "Al-Furqan" (Pembeda)

Dalam teologi Islam, alasan mengapa umat Islam merasa tidak perlu mencari naskah fisik Taurat atau Injil yang asli adalah karena adanya Al-Qur'an.

WhatsApp Image 2025-12-20 at 12.23.24

  • Al-Qur'an memiliki julukan Al-Furqan yang berarti "Pembeda".
  • Keyakinannya adalah: Apa pun di dalam Taurat dan Injil saat ini yang sejalan dengan Al-Qur'an, maka itulah sisa-sisa kebenaran (wahyu asli). Apa pun yang bertentangan dengan Al-Qur'an, dianggap sebagai bagian yang sudah diubah (tahrif) atau ditambahkan oleh manusia.
  • Jadi bagi seorang Mukmin, Al-Qur'an adalah "alat pendeteksi uang palsu"-nya.

3. Mengapa Taurat dan Injil yang "Asli" Tidak Ada?
Secara historis dan teologis, jawaban yang sering diberikan oleh sarjana Muslim adalah:                      

   WhatsApp Image 2025-12-20 at 12.22.09     WhatsApp Image 2025-12-20 at 12.22.45

  • Taurat: Dianggap telah hilang atau rusak saat peristiwa penghancuran Bait Allah (Solomon's Temple) oleh bangsa Babilonia (Nebukadnezar).
  • Injil: Islam meyakini Injil adalah wahyu tunggal yang diberikan langsung kepada Nabi Isa (Yesus). Sementara Injil yang ada sekarang (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dianggap sebagai biografi atau catatan murid-murid mengenai Yesus, bukan "Buku Wahyu" asli yang didiktekan langsung dari Tuhan ke Yesus.

Kesimpulan dari Argumen Tersebut
Narasi itu sebenarnya adalah strategi logika untuk mengatakan: "Kami tidak perlu menunjukkan yang asli untuk membuktikan yang ada sekarang telah berubah; cukup tunjukkan kesalahan/kontradiksi yang ada di dalamnya, maka status 'asli'-nya gugur dengan sendirinya."

Tentu saja, argumen ini memiliki bantahan  karena perbedaan persepsi terhadap Kitab Suci. Sepanjang persepsinya berbeda dan tidak bisa disepakati yaaaa, yaaaaa.......
Wallahu A'lam.

.L.

Minggu, 16 Februari 2025

Hukuman

 Pada suatu hari, seorang kawan saya yang Nasrani mengirim pesan singkat kepada saya yang isinya seperti ini:

“Kenapa Tuhan membunuh 25.000 orang di Siria dan Turki?”

Turki Berduka: Gempa Bumi Menewaskan Ratusan Jiwa - Disaster Management  Center Dompet Dhuafa

Sekedar informasi bahwa telah terjadi gempa bumi di daerah Turki dan Siria pada bulan Februari 2023 yang mengakibat ribuan orang tewas dan kehilangan tempat tinggal.

Mengapa Turki dan Siria dan bukan negara-negara orang kafir? Seperti yang kita ketahui bahwa Turki dan Siria adalah dua negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Sementara itu, satu bulan sebelumnya yaitu bulan Januari 2023 terjadi pembakaran Alquran di salah satu negara Eropa bagian utara yang dilakukan oleh orang kafir yang dilindungi oleh aparat setempat di depan Kedutaan Besar Turki dengan dalih kebebasan berekspresi. Perbuatan itu dikecam oleh otoritas Turki yang menggambarkan fenomena tersebut sebagai tindakan yang keji terhadap kemanusiaan.

Satu bulan kemudian terjadilah gempa yang cukup besar melanda Turki. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa Turki yang dilanda gempa dan bukan negara yang melindungi pembakar Alquran itu?

Saya pun juga sering bertanya mengapa negara-negara yang mayoritas Muslim yang mengalami banyak musibah sementara negara-negara orang kafir tampak aman dan sejahtera. Sebagai contoh di Indonesia pada tahun 2004, mengapa Aceh yang terkena dampak gempa dan tsunami yang paling parah padahal Aceh satu-satunya provinsi yang menerapkan hukum syariat di Indonesia dan sebagai orang mukmin kita pun tahu bahwa bencana yang terjadi itu bukan hanya sekedar fenomena alam saja?

Pertanyaan saya ini pun saya coba tanyakan pada seorang kawan. Ia menjawab berdasarkan pemahamannya dan ditutup dengan, “Tuhan yang lebih tahu apa alasannya.”

Benar sekali. Tuhan yang lebih tahu apa alasannya sehingga saya pun tidak perlu mengarang-ngarang alasannya kira-kira apa. Alhamdulillah saya sudah mengkhatamkan kitab yang disucikan oleh orang-orang Nasrani beberapa kali dan saya teringat bahwa ada tertulis di dalamnya lalu saya jawab berdasarkan kitab yang dia imani itu begini:

Memang Tuhan yang hidup menyiksa kami karena dosa-dosa kami untuk menegur dan memperbaiki kami. Tetapi kemarahannya tidak lama, sebab kami ini hamba-hambanya, dan ia akan berdamai lagi dengan kami. (2 Makabe 7:32-33 BIS/BIMK)

Ternyata hal ini sesuai dengan Firman Tuhan begini:

Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (As-Sajdah 32:21)

Siapakah mereka yang dimaksud di atas? Mereka itu adalah orang-orang fasik yaitu orang yang percaya kepada Allah s.w.t. tetapi tidak mengamalkan perintah-Nya bahkan melakukan perbuatan dosa (KBBI VI).

Lalu ia bertanya lagi,

Harus dengan menyiksa?

saya jawab lagi berdasarkan kitab yg dia sucikan, begini:

Jadi Tuhan selalu bermurah hati kepada kita umatnya. Ia menyiksa kita dengan malapetaka, tetapi tidak pernah meninggalkan kita. (2 Makabe 6:16 BIS/BIMK)

Katanya lagi, “Jadi Turki berdosa, ya?'”

Saya jawab, “Tidak ada satupun yang tidak berdosa sepertinya. Orang mukmin itu jika dia berdosa maka langsung dihukum sebagai teguran supaya tidak berdosa terlalu banyak lalu bertaubat. Lebih baik dihukum di dunia daripada dihukum di akhirat yang lebih parah. Taat berkat, tidak taat hukuman dan teguran. Bukankah janji-Nya seperti itu? Iya atau tidak?”

Katanya, “Itu bukannya pintar-pintarnya cari alasan? tidak sesuai dengan sains.”

Kata saya, “Informasi dari Tuhan ini mah. Sains saja yang cocoklogi. Sudah? Itu saja?”

Dia pun terdiam.

Sekarang kita lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya pribadi.

Lalu mengapa orang-orang kafir itu dibiarkan saja seperti itu? Hidup nyaman, maksiat aman, tampak damai, tidak terdampak bencana, dan berbagai kenikmatan yang lain.

Beginilah yang ada tertulis:

Sesungguhnya adalah suatu tanda kebaikan hati kalau orang berdosa segera dihukum dengan tidak menunggu lama-lama. Yang Mahakuasa tidak memperlakukan kita seperti ia memperlakukan bangsa-bangsa lain: Mereka dibiarkannya tenggelam dalam dosa sebelum dihukum, sedangkan kita dihukumnya sebelum kita berdosa terlalu banyak. (2 Makabe 6:13-15 BIS/BIMK)

Juga sebagaimana Firman Tuhan begini:

Jangan sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepadanya baik bagi dirinya. Sesungguhnya kami memberikan tenggang waktu hanya agar dosa mereka makin bertambah dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. (Ali Imran 3:178)

Lalu bagaimana dengan orang-orang kafir yang menjajah dan berbuat kerusakan di banyak negeri orang-orang mukmin?

Beginilah yang ada tertulis:

'Aku akan memanggil semua bangsa dari utara, dan juga hamba-Ku, Nebukadnezar raja Babel. Mereka akan Kukerahkan untuk berperang melawan Yehuda dan penduduknya serta segala bangsa di sekitarnya. Bangsa Yehuda bersama bangsa-bangsa tetangganya akan Kubinasakan dan Kubiarkan hancur untuk selamanya. Orang-orang yang melihatnya akan terkejut dan merasa ngeri. Aku, TUHAN, telah berbicara. (Yeremia 25:9 BIS/BIMK)

Karena apa? Beginilah yang tertulis:

Nenek moyangmu yang pertama telah berdosa, para pemimpinmu telah memberontak terhadap Aku, imam-imammu telah mencemarkan Rumah-Ku. Maka Israel Kuserahkan untuk dihina, keturunan Yakub Kubiarkan ditumpas." (Yesaya 43:27-28 BIS/BIMK)

Lalu:

Setelah itu Aku akan menghukum bangsa Babel dan rajanya karena dosa mereka. Negeri Babel akan Kuruntuhkan dan Kubiarkan hancur untuk selamanya. (Yeremia 25:12 BIS/BIMK)

Wallahu a’lam.

L Cap Seg

 

Selasa, 14 Januari 2025

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

U Cap

lama hadis, ulama fiqih, dan ulama lainnya mengatakan bahwa diperbolehkan – bahkan disunatkan – mengamalkan hadis dha’if dalam hal keutamaan amal, hal yang mengandung targhib (anjuran) dan yang mengandung tarhib (peringatan), selama hadis tersebut tidak berpredikat maudhu’.

Masalah hukum – seperti halal, haram, jual beli, nikah, dan talak serta lain-lainnya – tidak boleh diamalkan melainkan dengan hadis sahih atau hadis hasan, kecuali hadis yang menyangkut masalah bersikap hati-hati dalam suatu hal dari masalah-masalah tersebut. Sebagai contoh: apabila ada hadis dha’if yang menyebutkan makruh melakukan cara transaksi jual beli tertentu atau makruh bila melakukan nikah tertentu, maka hal tersebut disunatkan untuk dihindari, tetapi tidak bersifat wajib.

Kami sengaja mengetengahkan pasal ini karena di dalam kitab ini (Al-Adzkar) disebutkan hadis yang kami jelaskan sahih, hasan, dan dha’if-nya, atau tidak kami beri keterangan karena hadis tersebut membingungkan, atau karena hal lain. Untuk itu, kami berharap agar kaidah atau patokan ini terlebih dahulu tertanam dalam benak pembaca kitab ini (Al-Adzkar).

Sumber: Al-Adzkar: Buku Induk Doa dan Zikir; Imam Nawawi.

L Cap Seg