Rabu, 23 November 2016

qudsy (Jihad)

RISALAH SRI SUSUHUNAN MAGELANG HADININGRAT KEPADA JAMAAH TILAWAH

Alhamdullillah, laysa kamitslihi syaiun fi haqqihi aw dzatihi aw asmaihi aw af’alihi. Usholly wa usallimu ‘ala khoiri kholqihi, Muhammadin wa alihi wa ashabihi wa sallam wa ba’d

emoga berkah, kemuliaan dan keteguhan iman senantiasa tercurah atas kita semua, ummat terbaik dari segala ummat. Demikian kita tertuntun dengan segala keindahan koridor islam, dengan kesejukan kalamNya, dengan adab- adab panutan kita, Muhammad sang pembuka cahaya, dialah yang menerangi dunia, cahaya di atas cahaya, penawar hati gundah, ansyuduhu nasyidan mahabban…

Ikhwah, kita simak sebuah hadist qudsy yang berhasil mengusik benak ane sore ini, “ man lam yaskur ala an na’mai wa lam yashbir ala al balai fal yathlub robban siwai”…Siapa saja yang tidak bersyukur atas ni’mat- ni’matKu, dan tiada sabar atas uji cobaKu, maka carilah olehnya Tuhan selain Aku!”

Cobalah ikhwah renung sejenak, apa maksud gerangan kalam ini???

Tepat sekali!!!! Hadist qudsy ini memuat inti iman, bahkan ada sebuah hadist “ al imanu nishfani, nisfun ala syukrin wa nisfun ala shobrin”,….insyaAlloh jika tidak salah seperti itu atau antum coba cari redaksinya. Iman itu terbagi dua bagian, setengahnya atas syukur, dan setengah lagi adalah sabar.

Yaaa,….syukur dan sabar.

Dua kata yang ampuh, tiada lagi kekuatan yang menandingi keimanan. Siapa saja yang beriman akan berani berkorban demi apa yang ia imani, untuk apa yang ia yakini. Berkorban dengan segala kemampuan dan harta benda miliknya, termasuk satu nyawa yang ia bawa. Itulah jihad, jihad mengorbankan apa yang ia punya, demi apa yang ia cinta, siapa yang ia cintai maka akanlah ia besertanya dalam surga nanti. “ Anta ma’a man ahbabta” engkau bersama dengan yang kau cintai”….Beberapa ulama memberikan pendapat mengenai jihad.

- jihad terbesar…..yaitu jihad menundukan gejolak nafsu. Segala nafsu, apa bila terturutkan tanpa kendali, akan mengakibatkan hinanya derajat kemanusiaan kita, hal ini senada dengan firman

“ Inna kholaqna al insane fi ahsani taqwiim, tsumma rodadnahu asfala safilin”…sungguhlah Kami telah bercipta akan manusia itu dalam keadaan sebaik- baik rupa/ bentuk, (akan tetapi )kemudian Kami kembalikan ia dalam serendah- rendahnya tempat (tempat terendah/ hina)”.

Ayat ini menyinggung kita, resiko dimana bila kita kurang pandai memegang kendali nafsu, maka nafsu itulah yang akan membawa kita menuju jurang sengsara. Ingat, Kita diingatkan dalam qur’an

“ Inna annafsa la ammarotun bi as su’”…sesungguhnya nafsu itu mengajak kepada keburukan.

Nafsu disini adalah nafsu yang memperturutkan segala keinginannya, yang mengumbar diri tanpa ada batas kerisauan atas dampak nantinya. Tanpa ada control keimanan, maka poros utama pengontrol nafsu adalah iman. Tepat hadist qudsy diatas, intinya mengatakan “ siapa saja tidak beriman, cari saja lain Tuhan” …..bagaimana nasib manusia coba, ketika ia telah dikucilkan oleh Tuhan, bahkan kita disuruh mencari tempat berteduh di mana tempat itu tidak dimiliki oleh Alloh…manalagi ada tempat seperti itu. Artinya bahwa, kemurkaan Allohlah yang didapat, kekallah dalam keadaan hina selama- lamanya di neraka, asfala safilin,,,,sehina- hinanya tempat yang hina, wal ‘I yadzubillah…Bahkan ketika rasul berpulang dari perang Badr, Beliau bersabda kepada para sahabat “ Roja’na min jihad al ashghor ila jihad al akbar” maa jihad al akbar ya rasul? Qola “ jihad an nafs....Kita telah berpulang dari jihad kecil menuju jihad besar” sahabat Tanya “ apa itu jihad besar ya rasul?? Jawab nabi “ jihad atas nafsu”.

- jihad ‘am (a’wam) : sebuah kategori jihad dimana jihad ini mempunyai batasan ta’rifat yang luas, di mana setiap gerak tindak anggota tubuh bisa menjadi alat jihad. Dengan segala kemampuan dan kesempatan, segala profesi bisa menjadi ajang jihad. Asalkan landasan adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, juga beramal sholih. Dijanjikan dalam al qur’an : 62,

“ Sesungguhnya orang- orang yang beriman dan orang – orang yahudi dan nashrani dan shobiin, yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan beramal sholih maka bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhannya. Dan tiada kekhawatiran atas mereka dan tiadalah bagi mereka kesusahan”.

Intinya dalam ayat ini semua mengacu kepada iman dan amal sholih, dalam segala bentuk amal sholih bisa menjadi jihad, itulah pengertian jihad ‘am. Adapun ayat di atas tadi telah lampau ane urai dalam kajian dan muhadastah di tilawah. Apabila masih mengganjal insyaAlloh bisa didiskusikan kembali.

- Jihad muthlaq : sebuah bentuk frontal dan fisik atas reaksi ummat muslimin terhadap tindakan yang betul- betul merongrong keutuhan dan kewibawaan Islam. Jihad ini disebut juga secara ma’lum sebagai jihad harby...yaitu berperang li I’lai kalimatihi subhanahu wa ta’ala ham dan yaliqu bijalalihi wa a’dzimi shulthonih. Meninggikan keluhuran kalimat tauhid, mempertahankan diri dari musuh- musuh islam, yang kian lama kian berulah, membuat kekacauan dengan mengatas namakan islam, atau bahkan mencoba secara frontal berhadapan dengan muslim. Ketika telah terpukul dan tertabuh genderang jihad harby, maka pintu surga siap terbuka, jihad berpahala surga, karena jiwa jihad adalah ruh dari perjuangan. Akhir- akhir ini sering ada faham yang menggembosi semangat jihad kaum muda muslim, bahkan mulai mengaburkan arti / ahammiyah al jihad. Maka, bukan tidak mungkin seorang muslim di masa mendatang akan asing dengan kata jihad, dan malah parahnya lagi akan asing mendengar kata “Islam”. Ketahuilah wahai ikhwah, Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah ia yang terasingkan di tengah- tengah hingar bingarnya kerusakan dunia, akibat meninggalkan kelaziman para ahlus sunnah, sehingga mereka yang senantiasa mengaplikasikan diri sesuai sunnah akan dianggap asing. Namun keprihatinan kita, jihad sendiri menjadi trik penggembos kalangan muslim sendiri, menjadi pemicu tindakan yang di luar koridor jihad sebenarnya.Sehingga islam terkesan horror, seram dan menakutkan. Seharusnya ummat muslim kudu pandai bersikap, tiadalah sesuatu yang gegabah tanpa ilmu dan pertimbangan itu akan ada guna. Di mana kita mengenal “ Mencegah mafsadat adalah jauh lebih baik, dari pada menghadirkan mashlahat”......sedang dalam realita akhir- akhir ini, justru Islam dirundung sedih, wajahnya tercoreng dengan adanya isu- isu yang mengatasnamakan jihad disepadankan dengan aksi terror. Tentulah ikhwah mengerti, sehingga tiada perlulah ane menyinggungnya. Yang jelas, semua berdasar iman dan amal sholih. Amar ma’ruf nahyi an al munkar, bukan nahyi an al munkar bi ath thoriq alladzy lahu sababun li al mafsadat”....mengajak kepada perkara ma’ruf, mencegah atas yang munkar....bukan mencegah munkar dengan jalan yang menimbulkan kerusakan.

- Semoga manfaat

- Wassalamu’alaikum wr wb Sri_Paniti_laksana Kasuhunan Magelang Hadiningrat

.L.

Selasa, 22 November 2016

figur

RISALAH SRI SUSUHUNAN MAGELANG HADININGRAT KEPADA JAMAAH TILAWAH

Bismillahi al hamdulillah ash sholatu wa as salamu ala rasulillah wa ahli baytihi wa ashabihi wa man walahu, wa ba’d

khwah, lama tiada ghiroh untuk menorehkan isi benak, namun kali ini ane coba menghidupkan kembali nasyhtoh yang selama ini lesu. Baik, kita coba dengan mengingat dan mengambil ibroh dari beberapa kisah yang digambarkan oleh Al Qur’an sebagai pancang pandang kita dalam berperilaku. Mari kita berfikir sejenak, mentadabburi apa yang telah Alloh kisahkan dalam Al Qur’an. Tentunya hanyalah diri pribadi ini berusaha mengambil manfaat dari isinya, bukanlah semata ingin congkak dan pongah atas tulisan kecil ini. Jauhlah diri dari rasa takabbur, ingin menggagahkan diri, menunjukan sebagai yang ter…dan ter..paling dan paling…, namun adalah sebuah harapan untuk mewujudkan pertemanan dan ukhuwwah dalam landasan yang hakiki, mencoba merajut tali kasih persaudaraan yang sejati. Satu kita dalam namaNya, satu kita dalam tujuan menggapai ridloNya, satu kita dalam mencapai ma’rifatNya. Satu kita dalam ukhuwwah tilawah, amiien.

Artikel kali ini ane coba untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah sering kita dengar, sering kita baca, atau bahkan sering kita acuhkan. Kadang dalam hati tak terlintas untuk mengkajinya, tak terpikir untuk menelaahnya, bahkan jauh dari rasa ketertarikan atasnya, sehingga pantaslah tak pelak lagi kita kurang bisa mengambil ibroh atas nasehat yang terkandung di dalamnya. Artikel ini akan sedikit banyak mengurai beberapa figure kepemimpinan dalam keluarga, kebersamaan dalam keluarga, keluarga yang taat ataukah keluarga yang makshiyat. Maka tiada berlebih jika artikel ini ane judulkan “ Rasmun al usrah”..dimana diartikan sebagai “Penggambaran Keluarga”. Mari kita simak…

Dalam beberapa kesempatan telah lalu, kita telah sering menyinggung bahkan mengajukan masing2 argumen dalam bab Ahkam An nikah Wa Azzifaf”, maka kisah kali ini akan menjadi gambaran bagi ikhwah untuk maju dan membentuk azam apakah bentuk dan motip keluarga yang akan antum usahakan. Tentunya dengan mengambil sumber yang haq, yaitu Al Qur’an dan As sunnah.

Dalam suatu saat, ane teringat sebuah materi yang telah disampaikan oleh seorang ustadz, beliau mengambil tema tentang penggambaran figure keluarga. Menurut beliau al qur’an telah menggambarkan figure tsb dalam 4 macam :

Figur Keluarga dengan kepala keluarga yang salih, sedang istri yang salah.

Al ustadz memberikan sebuah contoh, dimana sebuah keluarga harus mempunyai kesekufuan antara sang suami dan sang istri. Hal itu akan mampu menjadi satu motor untuk menentukan bagaimana kendali kendaraan berupa keluarga akan terarah, menuju satu tujuan visi misi yang sama. Yaitu keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Hal ini sejalan dengan firman Alloh dalam QS. Arrum :21

“ Dan dari tanda2 kuasaNya kami ciptakan bagi kalian dari jenis kalian pasangan, supaya sakinah kalian padanya dan Kami jadikan diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada hal demikian adalah sungguh satu tanda kuasa (Tuhan)bagi kaum yang berfikir”.

Namun, ada kalanya kesekufuan dalam visi dan misi ini tidaklah diperhatikan dan dihirau oleh sebagian dari kita, sehingga pada pertengahan jalan goncanglah kapal keluarga itu. Sebuah figure dimana si suami salih, dan tidak sekufu dengan visi misi sang istri yang hanya mementingkan cinta mulhaqy/ semu. Dimana sang suami betul2 ingin mendirikan sebuah bangunan rumah tangga yang berpaku pada landasan syariat, namun berkebalikan dengan visi istri, yang hanya menganggap bahwa keluarga adalah cukuplah hanya di dunia saja. Sehingga sang istri pun terang2an berani membangkang pada apa kata suami, dengan tanpa landasan yang logis dan syar’ie. Sebuah contoh misal dalam Al Qur’an adalah figure keluarga nabi LUth a.s dan Nabi Nuh a.s. Dimana sang suami merupakan figure panutan ummat, menghimpun ummat menuju ketaatan kepada ilahy, sementara sang istri terang2 an membagkang bahkan menjadi motor yang terdepan sebagai penentang dakwah suaminya. Maka bagi suami adalah merupakan konflik batin terbesar, jika hal ini betul2 terjadi pada masa sekarang. Adalah satu ketentuan dimana seorang suami merupakan panutan dalam keluarga, ia didengar nasehatnya, diperhatikan arahannya, dilaksanakan perintahnya. Namun, bagi figure seperti istri Nabi Luth a.s dan Nabi Nuh a.s ini lainlah soalnya. Mereka malah menjadi kerak neraka, jauh dari keselamatan di akhirat, karena mereka menjadi pemimpin front terdepan dalam menggugurkan dakwah sang suami yang haq. Kita ingat ketika nabi Luth hendak menyelamatkan tamunya, maka istrinya serta merta malah berkata “ akulah yang terang2an akan mengusirmu dari kampong ini”,,insyalloh begitu kisahnyaJ ….maka ibroh yag dapat kita ambil disini adalah, sekufu dalam iman, islam, satu visi satu misi membentuk keluarga yang Islami.

Figure keluarga dengan Kepala rumahtangga ahli ma’shiyat dan istri ahli taat.

Jikalaulah ada gambaran keluarga pada masa ini, maka sungguhlah terlampau berat sang istri itu untuk memperjuangkan keimanannya. Betapalah tidak, seorang suami yang seharusnya menjadi pemimpin keluarga, penentu arah dalam tujuan keluarga. Malah jauh menyimpang dari jiwa dan semangat yang baik. Justru sang suami malah memataharangkan tujuan keluarga semula, yakni membangun keluarga Islami. Type keluarga seperti ini telah Alloh gambarkan dalam keluarga Fir’aun. Asiyah si istri fir’aun, dengan gigih mencoba mempertahankan keimanan sejatinya, walau harus nyawa yang ia haturkan demi menebus keyakinannya. Namun, tiadalah bergrming ia dibuat Fir’aun. Fir’aun yang konon congkak, pantaslah ia congkak dan pongah karena memang sebetulnya ia tidaklah seperti manusia lumrah, dalam suatu kitab dikatakan Fir’aun tiadalah pernah menderita sakit, bahkan buang airpun berjangka 40 hari sekali. Namun, semua itu sebetulnya hanyalah sebagai batu uji Alloh atasnya. Apakah ia akan jumawah, ataukah akan semakin merunduk atas kuasa ALLoh. Malahan ia dicap oleh Al Qur’an sebagai sosok yang melampaui batas, artinya ia telah jumawah mengklaim dirinya sebagai sesembahan / Tuhan. Dan betul, seketika ia dikalahkan oleh anak angkatnya sendiri, Mosa a.s maka pupuslah kepongahannya. Namun, bukanlah pokok kajian kita membicarakan Musa a.s, hanyalah kita mencoba mengambil sisi penggambaran sang istri yang begitu tegar dalam perjuangan mempertahankan keimanan. Ya, istri seperti inilah sungguh surga baginya. Istri dengan pendirian iman yang kokoh, tak terpengaruh arogansi suami.

Figur Suami dan istri sekufu dalam ma’shiyat.

Gambaran keluarga seperti ini telah diterangkan dalam QS Al lahab (Gejolak Api), mari kita simak :

- binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa.

- Tiadalah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan

- Kelak ia akan masuk kedalam api yang bergejolak

- Dan (begitu pula) istrinya, sipembawa kayu baker

- Yang lehernya ada tali sabut

Dalam sejarah hidupnya. Abu lahab dan istrinya adalah sejoli yang senantiasa senang dengan menebar gossip dan fitnah atas nabi, maka dikatakan si pembawa kayu baker, artinya adalah sang pembawa kabar isu/ fitnah atas rasululloh saw. Dan kata kedua tangan itu adalah penegas si Abu Lahab itu sendiri. Kekal mereka dalam neraka ALloh, bahkan oleh sang ustadz dikatakan bahwa kata “hammalata al khatthob” juga diartikan bahwa ia akan memikul kayu baker yang membara di neraka. Nau’dzubillah…

Kita berlindung dari sifat2 sedemikian kepada ALloh swt

Figur Suami dan Istri sekufu dalam iman.

Hal ini adalah sangat cocok dinisbatkan kepada diri rasul. Dimana beliau beserta seluruh keluarganya/ istri2 nya senantiasa dalam keadaan iman yang kokoh. Maka tiadalah berlebih jika Alloh menggambarkan rasul sebagai seorang yang luhur dalam berakhlak, “Wa innaka la a’la khuluqin A’dzim” dan sesungguhnya engkau dalam tatanan akhlak yang agung”…..apalagi dengan persaksian kita sebagai seorang mukmin, maka dengan jelas dasar hokum yang kita ambil adalah al Qur an dan sunnah nabi Muhammad saw, sunnah dalam segala lini kehiduoannya. Maka suatu saat ditanya A’isyah..seperti apakah akhlak rasul itu??Akhlak rasul adalah Al qur’an…..demikian dalam membimbing rumah tangga, ia sukses dan mampu memberi tauladan kepada siapa saja, ia memberi inspirasi kedalam jiwa sanubari tiap muslim di dunia, tokoh yang paling berpengaruh. Bahkan dalam bertata Negara pun ia adalah panutan sejati, dalam berkeluarga hingga khilapah. Kita bermohon kepada ALloh semoga dapat meneladani akhlak beliau dalam segala hal, hingga kita selamat dari dunia sebagai ladang kita memetik buahnya di akhirat, amiien.

Demikian tidaklah perlu diperpanjang lagi, kiranya antum telah banyak mengenal sosok mulia Muhammad bin Abdullah, Sholawat dan salam teruntuknya.

Segala khilap mohon dimaapkan, wal hamdulillahi robbil a’lamin

Sri_susuhunan

Kasuhunan Magelang Hadiningrat

.L.

Rabu, 09 Desember 2015

Alkitab & Hadist: Kisah Nabi Sulaiman a.s. dan 2 Wanita

Nabi Sulaiman a.s. dan 2 wanita

abi Sulaiman a.s. anak Nabi Daud a.s. adalah seorang raja yang berkuasa atas seluruh tanah Israel. Ia dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa yang telah dianugerahkan Allah s.w.t. atas dirinya. Salah satu bentuk kebijaksanaan-nya adalah seperti  kisah di bawah ini:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ تَقَعُ فِي النَّارِ وَقَالَ كَانَتْ امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَاهُمَا جَاءَ الذِّئْبُ فَذَهَبَ بِابْنِ إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ صَاحِبَتُهَا إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ وَقَالَتْ الْأُخْرَى إِنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ فَتَحَاكَمَتَا إِلَى دَاوُدَ فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى فَخَرَجَتَا عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ فَأَخْبَرَتَاهُ فَقَالَ ائْتُونِي بِالسِّكِّينِ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا فَقَالَتْ الصُّغْرَى لَا تَفْعَلْ يَرْحَمُكَ اللَّهُ هُوَ ابْنُهَا فَقَضَى بِهِ لِلصُّغْرَى قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاللَّهِ إِنْ سَمِعْتُ بِالسِّكِّينِ إِلَّا يَوْمَئِذٍ وَمَا كُنَّا نَقُولُ إِلَّا الْمُدْيَةُ

elah bercerita kepada kami, Abu Alyaman, telah mengabarkan kepada kami, Syu'aib, telah bercerita kepada kami, Abu Azzanad, dari 'Abdurrahman yang bercerita kepadanya bahwa dia mendengar dari Abu Hurairah r.a. yang mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaanku di hadapan manusia bagaikan seseorang yang menyalakan api lalu kupu-kupu dan hewan-hewan ini masuk ke dalam api tersebut".

Dan Beliau juga bersabda: "Ada dua orang wanita dengan bayinya masing-masing lalu datang serigala membawa kabur salah satu dari bayi itu. Maka salah seorang dari wanita itu berkata; "Yang dibawa kabur serigala itu adalah anakmu".

Dan wanita lainnya berkata; "Justru anakmu yang dibawa kabur serigala itu".

Akhirnya keduanya meminta keputusan kepada Nabi Daud a.s. lalu Nabi Daud memutuskan bahwa bayi yang ada itu milik wanita yang lebih tua. Namun keduanya pergi menemui Nabi Sulaiman bin Daud a.s. dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi kepadanya. Maka Sulaiman berkata: "Berikan pisau agar aku potong bayi ini menjadi dua.”

Wanita yang lebih muda berkata; "Jangan kamu lakukan. Semoga Allah merahmatimu, anak itu miliknya.’

Maka akhirnya Nabi Sulaiman memutuskan bahwa bayi itu milik wanita yang lebih muda.”

Abu Hurairah r.a. berkata; "Demi Allah, aku belum pernah mendengar tentang "sikkin" (pisau) dalam kisah ini kecuali hari ini dan kami tidak pernah mengatakannya kecuali al-Mudyah (golok). (Sahih Bukhari 3173) – bdk. Sahih Muslim 3245

טז אָז תָּבֹאנָה, שְׁתַּיִם נָשִׁים זֹנוֹת--אֶל-הַמֶּלֶךְ; וַתַּעֲמֹדְנָה, לְפָנָיו.  יז וַתֹּאמֶר הָאִשָּׁה הָאַחַת, בִּי אֲדֹנִי, אֲנִי וְהָאִשָּׁה הַזֹּאת, יֹשְׁבֹת בְּבַיִת אֶחָד; וָאֵלֵד עִמָּהּ, בַּבָּיִת.  יח וַיְהִי בַּיּוֹם הַשְּׁלִישִׁי, לְלִדְתִּי, וַתֵּלֶד, גַּם-הָאִשָּׁה הַזֹּאת; וַאֲנַחְנוּ יַחְדָּו, אֵין-זָר אִתָּנוּ בַּבַּיִת, זוּלָתִי שְׁתַּיִם-אֲנַחְנוּ, בַּבָּיִת.  יט וַיָּמָת בֶּן-הָאִשָּׁה הַזֹּאת, לָיְלָה, אֲשֶׁר שָׁכְבָה, עָלָיו.  כ וַתָּקָם בְּתוֹךְ הַלַּיְלָה וַתִּקַּח אֶת-בְּנִי מֵאֶצְלִי, וַאֲמָתְךָ יְשֵׁנָה, וַתַּשְׁכִּיבֵהוּ, בְּחֵיקָהּ; וְאֶת-בְּנָהּ הַמֵּת, הִשְׁכִּיבָה בְחֵיקִי.  כא וָאָקֻם בַּבֹּקֶר לְהֵינִיק אֶת-בְּנִי, וְהִנֵּה-מֵת; וָאֶתְבּוֹנֵן אֵלָיו בַּבֹּקֶר, וְהִנֵּה לֹא-הָיָה בְנִי אֲשֶׁר יָלָדְתִּי.  כב וַתֹּאמֶר הָאִשָּׁה הָאַחֶרֶת לֹא כִי, בְּנִי הַחַי וּבְנֵךְ הַמֵּת, וְזֹאת אֹמֶרֶת לֹא כִי, בְּנֵךְ הַמֵּת וּבְנִי הֶחָי; וַתְּדַבֵּרְנָה, לִפְנֵי הַמֶּלֶךְ.  כג וַיֹּאמֶר הַמֶּלֶךְ--זֹאת אֹמֶרֶת, זֶה-בְּנִי הַחַי וּבְנֵךְ הַמֵּת; וְזֹאת אֹמֶרֶת לֹא כִי, בְּנֵךְ הַמֵּת וּבְנִי הֶחָי.  {פ}

כד וַיֹּאמֶר הַמֶּלֶךְ, קְחוּ לִי-חָרֶב; וַיָּבִאוּ הַחֶרֶב, לִפְנֵי הַמֶּלֶךְ.  כה וַיֹּאמֶר הַמֶּלֶךְ, גִּזְרוּ אֶת-הַיֶּלֶד הַחַי לִשְׁנָיִם; וּתְנוּ אֶת-הַחֲצִי לְאַחַת, וְאֶת-הַחֲצִי לְאֶחָת.  כו וַתֹּאמֶר הָאִשָּׁה אֲשֶׁר-בְּנָהּ הַחַי אֶל-הַמֶּלֶךְ, כִּי-נִכְמְרוּ רַחֲמֶיהָ עַל-בְּנָהּ, וַתֹּאמֶר בִּי אֲדֹנִי תְּנוּ-לָהּ אֶת-הַיָּלוּד הַחַי, וְהָמֵת אַל-תְּמִיתֻהוּ; וְזֹאת אֹמֶרֶת, גַּם-לִי גַם-לָךְ לֹא יִהְיֶה--גְּזֹרוּ.  כז וַיַּעַן הַמֶּלֶךְ וַיֹּאמֶר, תְּנוּ-לָהּ אֶת-הַיָּלוּד הַחַי, וְהָמֵת, לֹא תְמִיתֻהוּ:  הִיא, אִמּוֹ.  {ס}  כח וַיִּשְׁמְעוּ כָל-יִשְׂרָאֵל, אֶת-הַמִּשְׁפָּט אֲשֶׁר שָׁפַט הַמֶּלֶךְ, וַיִּרְאוּ, מִפְּנֵי הַמֶּלֶךְ:  כִּי רָאוּ, כִּי-חָכְמַת אֱלֹהִים בְּקִרְבּוֹ לַעֲשׂוֹת מִשְׁפָּט.  {ס}

ada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. Kata perempuan yang satu: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan."

Kata perempuan yang lain itu: "Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati."

Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup."

Begitulah mereka bertengkar di depan raja. Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup."

Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja. Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain."

Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia."

Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!"

Tetapi raja menjawab, katanya: "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya."

Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan. (1 Raja-Raja 3:16-28 TB LAI)